Pada mata yang berkiblatkan dunia,
Maka tertancaplah sebuah bahagia sementara derita,
Pada kata yang berdiri atas kuasa,
Lalu hampalah mereka sebelum tertawa,
berdiri di bumi yang bukan miliknya,
berdiri di bumi yang bukan miliknya,
Menjadi gundah yang memusuhkan manusia,
Tetapi semua berdusta,
Untuk harga seuntai nyawa berdosa,
menutup
mulianya minda dan jiwa.
Keringat yang pasti jatuh,
Darah dan air mata lusuh,
Bukti kepada perjuangan kosong tanpa medan,
Yang mengharapkan mentari buta untuk berlabuh,
Dan hari esok menungguku di neraka dunia,
Hatta beranikah kalian menghadap kekalahan ?
Lunas sebuah dendam pada sebuah pintalan hujah,
Kejamkah kita untuk sesuatu yang hak,
Pabila hati mati dimamah saudara.
Kepincangan isi mulai terurai ,
Angkara kulit yang punah ternoda,
Maka gelora menusuk dada sasa,
Dan bisa luka menyinar kelam,
Lalu lusuh kalbu bersama durja,
Menjadi sisa alam yang akan binasa,
Belangsungkawa syurga kepada derita.
No comments:
Post a Comment